Kamis, 01 Mei 2008

Cover " Anggur Duka "



Puisi – Puisi Arsyad Indradi

Anggur Duka

Penerbit :

Kelompok Stusu Sastra Banjarbar

Kalimantan Selatan

edisi 1

BULAN DALAM HUJAN

memoriam : ari setya ardhi

Di tengah hujan aku terus berlari

menyerumu : Beri aku bulan

Inilah hasratku yang besar

Yang kusampankan

Di Batanghari

Di mana kau selalu membasu mimpi

( sesekali kau menoleh

cuma sekuntum senyum dimekarkan

setelah satu anggukan )

Sekejap pun mataku

Tak luput menatap cahaya itu

Bulan tibatiba menyabit

Dan lenyap di alir darahku

( hujan terus juga menderai

hujan terus juga menghitamkan

Batanghari )

Aku termangu

Menatap bulan lain

Basah di ujung tapak kakiku

Banjarbaru, Jan 2007

DI ATAS RANJANG WAKTU

Kuhempashempas tubuh

Agar muncrat api

Raya Puncak muntah salju

Tubuhku beku

Tak ada api, kaukah api

Tak ada tungku, kaukah tungku

Ah begitu jahanamnya malam

Tak lelehleleh

Setiap erang kuhempashepas

di batubatu rindu

Kau berkata : Membaralah dalam tubuhku

Hingga puncak ekstase

Di atas ranjang waktu

Bogor, 2007

TUHAN JANGAN KAU SEMBUNYIKAN DOAKU

Darahku seperti alapalap bersayapangin

Begitu isak kecil membuka pintu yang lama terkunci

Jemputlah anganmu yang terbengkalai

Aku tumpah dari perjalananmu yang panjang

Tumpah dari lukalukarindumu

Setiap jalan bersimpang kau bergumul dengan bimbang

Di batubatu kehidupan kau tulis riwayat impian

Sebelum matahari keburu terbenam

Duhai jagat,aku tak pernah mau terajal sedikitpun

Pada sekalian dusta semesta

Sebab aku lahir pada diriku sendiri

Selamat tinggal pada fatamorgana

Kubaca isak dis’luruh tapaktapakkakiku

Dan tak letihletih menulis aksaranamamu

Tuhan jangan kau sembunyikan doaku

Serpong - Tangerang, 2007


Jumat, 18 April 2008

edisi 2

MALAM PENUH RIWAYAT

: Diah Hadaning

Masih terjaga ketika kau berkata : Kita bukan bayang yang tenggelam

dalam tabir kelamnya. Biarkan hanyut, melata seperti ular.

Lidahnya menjulur melahirkan riwayat dan matanya

Lihatlah meneteskan sajaksajak yang bertuak

Bertuak sepanjang malam. Aku mabuk dalam bulan Meimu

Mabuk kembangapi muncrat dari usiamu yang panjang

Aku berbisik : Izinkan aku mencium aroma tanganmu

Malam itu beribu riwayat. Tak lelah sedikit pun menatap lalulintas

jalan kehidupan sepanjang Cikini Raya

sampai TIM itu kelelap tenggelam seribu diam

Kita kemudian terus juga berjalan sepanjang trotoar

dan bertambat di lobi Alya Hotel, kembali bersulang

Kita bersitatap : Sungguh masih begitu bening bola matamu

Lalu kita mencuci impian digema azan dini hari

Dan kau berkata : Sungguh eloknya surya bangkit nun di timur

Bulan Mei selalu ada di bulan Desembermu : bisikmu penuh rahasia

Lalu berlari masuk bus dan lenyap dari pandangan

Di seberang jalan aku masih berdiri menatap bayangan

yang semakin menebal dalam kenangan

Jakarta, 2007

BSD CITY SUATU MALAM

Bersulang di Farmers Market

Menari di Summarecon Mal Serpong

Ngoceh di CNCMa XXI

Lalu larut di Bugogi House

Beri aku kristal malam

Dari BCD yang paling City

Lonceng siapa berkelenengan tibatiba

Bulan membelah dan merkuri mendesah

Ketika City semakin tumpah

Di bibir merkah

Serpong, 2007

PULANG

Kita pasti pulang

Kealamat di mana kita datang

Sesungguhnya kita pejalan

Di suatu titik lingkaran kehidupan

Kita datang dan pergi

Kemudian datang

Dan tak pernah kembali lagi

Serpong, 2007

edisi 3

MENYONGSONG 17 AGUSTUS

Tanganku gemetar

Membuang lumut di sebuah batu nisan di tengah hutan

Tak pernah ada seorang pun menabur bunga

Apalagi upacara renungan

Di batu nisan ini bertulis

: Telah gugur kesumabangsa bernama Merdeka

Tgl. 17 bulan 8 tahun 1965

Jam nolnol

Merahputih terkulai di tengah tiang

Siapakah lagi yang gugur di medanperang hari ini

Satupersatu wajahwajah menunduk merenungi hatinya

Bungabunga zikir bertabur di pusara

Setiap menyongsong 17 Agustus

Mengalir airmata

Tapi siapakah lagi yang tiada bersangsi

Mencintai Tanahair ini selain kita sendiri

Dan menanamnya dalam sanubari

Masih tertanam dalam ingatan

Ketika kesumabangsa memporakporandakan penjajah

dengan kucuran airmata, darah, harta dan nyawa

Dan tak tahu lagi entah kemana tulangbelulangnya berserakan

Maka siapa lagi kalau bukan kita mengusung hatinurani

Agar Ia lahir kembali

Dan menghidupkan kembali keadilan dan kebenaran yang telah mati

Serpong,2007

SEORANG POLISI PAMONG PRAJA

Pasar kumuh itu telah terkepung

Tak satu pun bisa lolos

Pedagangpedagang kakilima itu

Tak sempat menyelamatkan dagangannya

Terpaku dan putus asa

Satuan Polisi Pamong Praja itu

Dengan beringas dan tangkasnya

Menggulung dagangan para pedagang kakilima ke mobil

Lalu dengan dengus panjang mobil itu pergi

Dibalik tembok pertokoan

Seorang Polisi Pamong Praja

Wajahnya pucat dan gemetar

Menyaksikan seorang perempuan tua

Meratapi dagangan sayurannya yang digulung

Seorang Polisi Pamong Praja

Di balik tembok pertokoan

Meratapi dirinya

Sayuryayuran itulah yang membesarkannya

Dan menjadikan ia Polisi Pamong Praja

Perempuan tua itu adalah ibunya

Pertokoan dan ruko bertumbuhan di negeri tercinta ini

Seperti jamur dimusim hujan

Tapi adakah yang mau berpikir solusi buat rakyat kecil

Yang waswas menggerai dagangannya di kaki lima

Seorang pengemis tibatiba terperanjat dan gemetar

Di depannya melintas seorang Polisi Pamong Praja berwajah pucat

Pengemis itu diamdiam melihat Polisi itu

Hilang dalam gerombolan hirukpikuk orangorang

banjarbaru, 2007

edisi 4

DI SEBUAH WATAS

Memandang mentari strubery

Berpagar bukit dan

Segerombolan pohon. Pagi dalam

Kicau burung. Di serambi villa,

Mencuci segala dukalara

Kulunaskan riwayat yang sudahsudah

Didekapan cahya matamu

Serpong, 26 juli 2007

GERIMIS MALAM

Kusembunyikan rindu

di balik tirai gerimismalam

angindingin

makin menuak dalam kenangan

Karna tak kuasa berlari

dan tangan terkulai

cuma desah napas

yang dapat membisikkan katahati

dan bila pandangmata redup

maka itulah hikayat rembulan

terkubur awan

Tak lebih sebuah pinta

jangan ajalkan sisa embun

pada selembar daun

agar kulihat warna pagi

bbaru,08

SEBUAH JAWABAN

: ramayani

Padahal ingin benar mengetuk pintumu

tapi tangan gemetar setiap ingin mengetuk

syair yang tersusun menjadi layu dan rontok

Kembali kupungut serakan untai

lalu kubawa berlari ke balik malam

sambil menyebut namamu

Bbaru, 08

edisi 5

LAUT

: diah h

Masihkah lautmu membiru

Masihkah lautmu mengombak

yang membuatku rindu ?

Aku cuma diam

memandang laut yang paling jauh

setiap ombaknya mengalun

pantai jadi kepayang

bbaru, 08

MASIH MEMBACA MALAM

RINDU YANG DALAM

Seperti juga aku

Masih seperti malam yang lalu

Membaca syair bersuluh kunangkunang

Angin dingin memaksaku berkalikali

Membunuh rindu

Bilamana matamu menetesi sukmaku

Maka bergegas menengok awan

Sebisabisanya kutengadahi langit

Adakah walau sebiji bintang ?

Syair membasah dijelagamalam

Untaidemiuntai kujemur di ayatayatzikir

Kujemur segala duka

bbaru,2008

PINTU DOA

Mengapa aku memilih malam menemuimu

Agar aku leluasa mencurahkan isihatiku

Begitu ramah membuka pintu setiap aku mengetuk

Di tengah malam yang sunyi yang maha gulita

Tapi maha bercahya di mataku

Kurebahkan rinduku di pangkuanmu

Menumpahkan airmataduka

Yang terperangkap dalam dustadunia

Berkalikali aku datang padamu

Agar aku kaulahirkan kembali

Merindukan tangisan bayi

Yang tak pernah dusta menyerumu

Bbaru, 2008

edisi 6

DI AMBANG SENJA

Selembar daun yang gugur menertawakanku

merenungi ambang senja

Sesungguhnya aku malu mengatakan

aku bukan daun

Daun jatuh ke bumi

Tapi aku melayang jauh sekali

Dan jatuh ke laut yang paling luas

bbaru, 2008

SENJA Di TANAH LOT

Dengan sabar aku menunggu

Sementara gulungan ombak menggemuruh

Di pantai yang sunyi

Berkalikali kukubur fatamorgana

Agar aku dapat melihat seluasluas laut

Kuserahkan diri pada pecahan ombak di batubatukarang

Debar jiwa di mataharimerah diseliputi awan

Langit telah melahirkan senja

Bersuntingbunga dan beras antara dua alis

Kubuihkan sukmasejatiku di mataombak yang kemilau

Yang menggitakan ayatayat utsaha dharma

Aku masih menunggumu, kekasih

Bali, 2008

MAHA KASIH

Kulayari alirnadiku yang gemuruh

dengan jiwa yang teduh

Layar terkembang di angin rindu

Menuju muara maha kasihmu

bbaru, 2008