
Puisi – Puisi Arsyad Indradi
Anggur Duka
Penerbit :
Kelompok Stusu Sastra Banjarbar
BULAN DALAM HUJAN
memoriam : ari setya ardhi
Di tengah hujan aku terus berlari
menyerumu : Beri aku bulan
Inilah hasratku yang besar
Yang kusampankan
Di Batanghari
Di mana kau selalu membasu mimpi
( sesekali kau menoleh
cuma sekuntum senyum dimekarkan
setelah satu anggukan )
Sekejap pun mataku
Tak luput menatap cahaya itu
Bulan tibatiba menyabit
Dan lenyap di alir darahku
( hujan terus juga menderai
hujan terus juga menghitamkan
Batanghari )
Aku termangu
Menatap bulan lain
Basah di ujung tapak kakiku
Banjarbaru, Jan 2007
DI ATAS RANJANG WAKTU
Kuhempashempas tubuh
Agar muncrat api
Raya Puncak muntah salju
Tubuhku beku
Tak ada api, kaukah api
Tak ada tungku, kaukah tungku
Ah begitu jahanamnya malam
Tak lelehleleh
Setiap erang kuhempashepas
di batubatu rindu
Kau berkata : Membaralah dalam tubuhku
Hingga puncak ekstase
Di atas ranjang waktu
TUHAN JANGAN KAU SEMBUNYIKAN DOAKU
Darahku seperti alapalap bersayapangin
Begitu isak kecil membuka pintu yang lama terkunci
Jemputlah anganmu yang terbengkalai
Aku tumpah dari perjalananmu yang panjang
Tumpah dari lukalukarindumu
Setiap jalan bersimpang kau bergumul dengan bimbang
Di batubatu kehidupan kau tulis riwayat impian
Sebelum matahari keburu terbenam
Duhai jagat,aku tak pernah mau terajal sedikitpun
Pada sekalian dusta semesta
Sebab aku lahir pada diriku sendiri
Selamat tinggal pada fatamorgana
Kubaca isak dis’luruh tapaktapakkakiku
Dan tak letihletih menulis aksaranamamu
Tuhan jangan kau sembunyikan doaku
Serpong - Tangerang, 2007
MALAM PENUH RIWAYAT
: Diah Hadaning
Masih terjaga ketika kau berkata : Kita bukan bayang yang tenggelam
dalam tabir kelamnya. Biarkan hanyut, melata seperti ular.
Lidahnya menjulur melahirkan riwayat dan matanya
Lihatlah meneteskan sajaksajak yang bertuak
Bertuak sepanjang malam. Aku mabuk dalam bulan Meimu
Mabuk kembangapi muncrat dari usiamu yang panjang
Aku berbisik : Izinkan aku mencium aroma tanganmu
Malam itu beribu riwayat. Tak lelah sedikit pun menatap lalulintas
jalan kehidupan sepanjang Cikini Raya
sampai TIM itu kelelap tenggelam seribu diam
Kita kemudian terus juga berjalan sepanjang trotoar
dan bertambat di lobi Alya Hotel, kembali bersulang
Kita bersitatap : Sungguh masih begitu bening bola matamu
Lalu kita mencuci impian digema azan dini hari
Dan kau berkata : Sungguh eloknya surya bangkit nun di timur
Bulan Mei selalu ada di bulan Desembermu : bisikmu penuh rahasia
Lalu berlari masuk bus dan lenyap dari pandangan
Di seberang jalan aku masih berdiri menatap bayangan
yang semakin menebal dalam kenangan
Bersulang di Farmers Market
Menari di Summarecon Mal Serpong
Ngoceh di CNCMa XXI
Lalu larut di Bugogi House
Beri aku kristal malam
Dari BCD yang paling City
Lonceng siapa berkelenengan tibatiba
Bulan membelah dan merkuri mendesah
Di bibir merkah
Serpong, 2007
PULANG
Kita pasti pulang
Kealamat di mana kita datang
Sesungguhnya kita pejalan
Di suatu titik lingkaran kehidupan
Kita datang dan pergi
Kemudian datang
Dan tak pernah kembali lagi
Serpong, 2007
MENYONGSONG 17 AGUSTUS
Tanganku gemetar
Membuang lumut di sebuah batu nisan di tengah hutan
Tak pernah ada seorang pun menabur bunga
Apalagi upacara renungan
Di batu nisan ini bertulis
: Telah gugur kesumabangsa bernama Merdeka
Tgl. 17 bulan 8 tahun 1965
Jam nolnol
Merahputih terkulai di tengah tiang
Siapakah lagi yang gugur di medanperang hari ini
Satupersatu wajahwajah menunduk merenungi hatinya
Bungabunga zikir bertabur di pusara
Setiap menyongsong 17 Agustus
Mengalir airmata
Tapi siapakah lagi yang tiada bersangsi
Mencintai Tanahair ini selain kita sendiri
Dan menanamnya dalam sanubari
Masih tertanam dalam ingatan
Ketika kesumabangsa memporakporandakan penjajah
dengan kucuran airmata, darah, harta dan nyawa
Dan tak tahu lagi entah kemana tulangbelulangnya berserakan
Maka siapa lagi kalau bukan kita mengusung hatinurani
Dan menghidupkan kembali keadilan dan kebenaran yang telah mati
Serpong,2007
SEORANG POLISI PAMONG PRAJA
Pasar kumuh itu telah terkepung
Tak satu pun bisa lolos
Pedagangpedagang kakilima itu
Tak sempat menyelamatkan dagangannya
Terpaku dan putus asa
Satuan Polisi Pamong Praja itu
Dengan beringas dan tangkasnya
Menggulung dagangan para pedagang kakilima ke mobil
Lalu dengan dengus panjang mobil itu pergi
Dibalik tembok pertokoan
Seorang Polisi Pamong Praja
Wajahnya pucat dan gemetar
Menyaksikan seorang perempuan tua
Meratapi dagangan sayurannya yang digulung
Seorang Polisi Pamong Praja
Di balik tembok pertokoan
Meratapi dirinya
Sayuryayuran itulah yang membesarkannya
Dan menjadikan ia Polisi Pamong Praja
Perempuan tua itu adalah ibunya
Pertokoan dan ruko bertumbuhan di negeri tercinta ini
Seperti jamur dimusim hujan
Tapi adakah yang mau berpikir solusi buat rakyat kecil
Yang waswas menggerai dagangannya di kaki
Seorang pengemis tibatiba terperanjat dan gemetar
Di depannya melintas seorang Polisi Pamong Praja berwajah pucat
Pengemis itu diamdiam melihat Polisi itu
Hilang dalam gerombolan hirukpikuk orangorang
banjarbaru, 2007
DI SEBUAH WATAS
Memandang mentari strubery
Berpagar bukit dan
Segerombolan pohon. Pagi dalam
Kicau burung. Di serambi villa,
Mencuci segala dukalara
Kulunaskan riwayat yang sudahsudah
Didekapan cahya matamu
Serpong, 26 juli 2007
GERIMIS MALAM
Kusembunyikan rindu
di balik tirai gerimismalam
angindingin
makin menuak dalam kenangan
Karna tak kuasa berlari
dan tangan terkulai
cuma desah napas
yang dapat membisikkan katahati
dan bila pandangmata redup
maka itulah hikayat rembulan
terkubur awan
Tak lebih sebuah pinta
jangan ajalkan sisa embun
pada selembar daun
agar kulihat warna pagi
bbaru,08
SEBUAH JAWABAN
: ramayani
Padahal ingin benar mengetuk pintumu
tapi tangan gemetar setiap ingin mengetuk
syair yang tersusun menjadi layu dan rontok
Kembali kupungut serakan untai
lalu kubawa berlari ke balik malam
sambil menyebut namamu
Bbaru, 08
LAUT
: diah h
Masihkah lautmu membiru
Masihkah lautmu mengombak
yang membuatku rindu ?
Aku cuma diam
memandang laut yang paling jauh
setiap ombaknya mengalun
pantai jadi kepayang
bbaru, 08
MASIH MEMBACA MALAM
RINDU YANG DALAM
Seperti juga aku
Masih seperti malam yang lalu
Membaca syair bersuluh kunangkunang
Angin dingin memaksaku berkalikali
Membunuh rindu
Bilamana matamu menetesi sukmaku
Maka bergegas menengok awan
Sebisabisanya kutengadahi langit
Adakah walau sebiji bintang ?
Syair membasah dijelagamalam
Untaidemiuntai kujemur di ayatayatzikir
Kujemur segala duka
bbaru,2008
PINTU DOA
Mengapa aku memilih malam menemuimu
Agar aku leluasa mencurahkan isihatiku
Begitu ramah membuka pintu setiap aku mengetuk
Di tengah malam yang sunyi yang maha gulita
Tapi maha bercahya di mataku
Kurebahkan rinduku di pangkuanmu
Menumpahkan airmataduka
Yang terperangkap dalam dustadunia
Berkalikali aku datang padamu
Agar aku kaulahirkan kembali
Merindukan tangisan bayi
Yang tak pernah dusta menyerumu
Bbaru, 2008
DI AMBANG SENJA
Selembar daun yang gugur menertawakanku
merenungi ambang senja
Sesungguhnya aku malu mengatakan
aku bukan daun
Daun jatuh ke bumi
Tapi aku melayang jauh sekali
Dan jatuh ke laut yang paling luas
bbaru, 2008
SENJA Di TANAH
Dengan sabar aku menunggu
Sementara gulungan ombak menggemuruh
Di pantai yang sunyi
Berkalikali kukubur fatamorgana
Agar aku dapat melihat seluasluas laut
Kuserahkan diri pada pecahan ombak di batubatukarang
Debar jiwa di mataharimerah diseliputi awan
Langit telah melahirkan senja
Bersuntingbunga dan beras antara dua alis
Kubuihkan sukmasejatiku di mataombak yang kemilau
Yang menggitakan ayatayat utsaha dharma
Aku masih menunggumu, kekasih
MAHA KASIH
Kulayari alirnadiku yang gemuruh
dengan jiwa yang teduh
Layar terkembang di angin rindu
Menuju muara maha kasihmu
bbaru, 2008